A partir de ahora somos Elev8

Somos más que un simple corredor. Somos un ecosistema de trading todo en uno: todo lo que necesitas para analizar, operar y crecer está en un solo lugar. ¿Listo para elevar tu trading?

USD/IDR: Rupiah Masih Tertekan Dekat 17.300, Pasar Uji Daya Tahan BI dan Prospek The Fed

  • Rupiah melemah ke 17.286 per Dolar AS menjelang sesi Eropa, turun 0,21% dari penutupan sebelumnya di 17.249, dengan rentang harian 17.264-17.338 per Dolar AS.
  • Tekanan juga tercermin pada kurs acuan BI, setelah JISDOR 23 April naik ke Rp17.308 per Dolar AS dari Rp17.179 pada 22 April dan Rp17.142 pada 21 April.
  • Data AS yang solid dan risiko AS-Iran menahan ruang pemulihan Rupiah, sementara MUFG melihat valuasi Rupiah mulai menarik dan memproyeksikan USD/IDR menuju 17.000 pada akhir Kuartal II.

Rupiah masih berada di bawah tekanan terhadap Dolar AS pada perdagangan Jumat. Menjelang sesi Eropa, pasangan mata uang USD/IDR berada di 17.286, naik 37 poin atau 0,21%, yang berarti Rupiah melemah dari penutupan sebelumnya di 17.249. Pergerakan harian tercatat dalam rentang 17.264-17.338, mendekati area tertinggi 52 minggu di 17.338. Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap Rupiah belum sepenuhnya mereda, dengan pasar masih berhati-hati di tengah kombinasi Dolar AS yang kuat, data ekonomi AS yang kuat, serta risiko eksternal yang menjaga permintaan terhadap aset safe haven.

Tekanan tersebut juga mulai tercermin dalam kurs acuan domestik. Data JISDOR Bank Indonesia pada 23 April tercatat di Rp17.308 per Dolar AS, naik dari Rp17.179 pada 22 April dan Rp17.142 pada 21 April. Kenaikan ini mengindikasikan pelemahan Rupiah tidak hanya terjadi di pasar spot, tetapi juga masuk ke referensi kurs resmi yang menjadi salah satu barometer tekanan Valas domestik.

Dari dalam negeri, investor masih menimbang efektivitas langkah stabilisasi Bank Indonesia di tengah tekanan eksternal yang belum reda. Pasar menguji apakah kombinasi intervensi BI, imbal hasil instrumen Rupiah, dan potensi aliran modal cukup kuat untuk menahan laju Dolar AS. Pada saat yang sama, harga minyak yang tinggi turut menambah kehati-hatian karena dapat memperbesar risiko inflasi impor, menekan neraca eksternal, dan meningkatkan beban subsidi energi dalam APBN.

Rupiah Berpeluang Stabil, MUFG Sebut Valuasi Sudah Undervalued

Meski demikian, sebagian analis mulai melihat ruang pemulihan bertahap. Analis Mata Uang Senior MUFG, Lloyd Chan, menilai Rupiah mulai menawarkan valuasi yang lebih menarik, meskipun risiko geopolitik masih tinggi. Menurutnya, indikator seperti REER menunjukkan undervaluasi Rupiah yang signifikan, sementara USD/IDR telah memasuki area overbought, sehingga risk-reward untuk mengejar penguatan Dolar AS di level saat ini mulai berkurang.

MUFG memprakirakan Rupiah cenderung memasuki fase stabilisasi jangka pendek, bukan bergerak menuju depresiasi yang tidak teratur. Bank tersebut mempertahankan proyeksi USD/IDR di 17.000 pada akhir Kuartal II, dengan peluang perbaikan bertahap pada kuartal-kuartal berikutnya seiring dukungan kebijakan, intervensi aktif BI, aliran modal yang membaik, dan penyempitan spread CDS sovereign Indonesia.

Ketegangan AS-Iran Bebani Rupiah, Premi Risiko Energi Tetap Tinggi

Dari sisi global, ketegangan AS-Iran tetap menjadi beban utama bagi mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah. Proses diplomasi yang belum menunjukkan kemajuan berarti, tekanan militer yang masih berlangsung, serta gangguan pelayaran di Selat Hormuz menjaga premi risiko energi tetap tinggi. Meski Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak akan menggunakan senjata nuklir, pasar tetap melihat risiko geopolitik sebagai faktor yang dapat mendorong harga minyak naik dan memperkuat permintaan terhadap Dolar AS.

Data AS Kuat Batasi Ruang Pemulihan Rupiah

Sentimen terhadap Rupiah juga tertahan oleh data ekonomi AS yang masih kuat. Klaim Tunjangan Pengangguran awal naik ke 214 ribu dari 208 ribu, namun masih relatif terkendali. Sementara itu, PMI S&P Global pendahuluan April menguat luas, dengan PMI Gabungan naik ke 52, PMI Jasa ke 51,3, dan PMI Manufaktur ke 54, seluruhnya menunjukkan aktivitas bisnis tetap berada di zona ekspansi.

Kombinasi data tersebut membuat pasar kembali menilai ulang peluang pemangkasan suku bunga The Fed. Selama ekonomi AS masih menunjukkan daya tahan, bank sentral memiliki ruang untuk mempertahankan sikap hati-hati lebih lama. Bagi Rupiah, kondisi ini cenderung kurang bersahabat karena dapat menjaga imbal hasil Dolar AS tetap menarik, menopang permintaan terhadap Greenback, dan membatasi ruang pemulihan dalam jangka pendek.

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.

Pound Sterling Stabil di Atas 1,3450 Setelah Data Penjualan Ritel Inggris

Pasangan mata uang GBP/USD stabil setelah tiga hari mengalami penurunan, diperdagangkan di kisaran 1,3470 selama jam perdagangan sesi Asia pada hari Jumat. Pasangan mata uang ini tetap tenang setelah rilis data Penjualan Ritel Inggris (UK), yang pulih 0,7% MoM di bulan Maret setelah turun sebesar 0,6% yang direvisi pada bulan Februari
Leer más Previous

GBP/JPY turun mendekati 215,00 meskipun Penjualan Ritel Inggris mengalahkan perkiraan

Pasangan mata uang GBP/JPY menemukan minat pembeli di atas 215,00 selama perdagangan Eropa pada hari Jumat setelah rilis data Penjualan Ritel Inggris untuk bulan Maret
Leer más Next