A partir de ahora somos Elev8
Somos más que un simple corredor. Somos un ecosistema de trading todo en uno: todo lo que necesitas para analizar, operar y crecer está en un solo lugar. ¿Listo para elevar tu trading?
Somos más que un simple corredor. Somos un ecosistema de trading todo en uno: todo lo que necesitas para analizar, operar y crecer está en un solo lugar. ¿Listo para elevar tu trading?
Rupiah pada Selasa jelang sesi Eropa masih berada dalam tekanan, dengan pasangan mata uang USD/IDR diperdagangkan di sekitar 17.070 setelah sempat menyentuh area 17.090 – mendekati level tertinggi terbarunya. Struktur pergerakan masih mencerminkan tekanan naik yang terjaga, dengan koreksi yang relatif terbatas.
Dari sisi eksternal, dolar AS tetap kokoh seiring memudarnya peluang kesepakatan AS-Iran menjelang tenggat pembukaan Selat Hormuz, yang memperkuat peran safe haven. Lonjakan harga minyak turut membangun ekspektasi inflasi global yang lebih tinggi, mendorong pandangan bahwa bank sentral utama akan mempertahankan kebijakan ketat lebih lama. Data PMI Jasa ISM AS yang turun ke 54 menunjukkan perlambatan moderat, namun kenaikan komponen harga ke 70,7 menegaskan tekanan inflasi masih bertahan.
Perhatian pasar pada pekan ini akan mengarah pada publikasi risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) periode Maret yang dijadwalkan rilis pada Rabu malam. Dalam pertemuan tersebut, The Fed memilih untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%, seraya menekankan bahwa kenaikan harga energi berpotensi memicu tekanan inflasi dalam jangka pendek.
Tekanan juga datang dari dinamika regional. Bob Savage dari BNY menyoroti bahwa sentimen di Asia tetap rapuh di tengah volatilitas valas dan ekuitas, dengan arus keluar modal asing yang berlanjut. Rupiah, bersama mata uang regional lain seperti won Korea Selatan dan peso Filipina, dinilai berada di kelompok paling rentan, terutama seiring meningkatnya kebutuhan lindung nilai dan posisi investor yang mulai beralih ke underheld.
Dari dalam negeri, Dr. Henry Hao dan Moses Lim dari Commerzbank menilai inflasi Indonesia yang melandai ke 3,5% memang telah kembali ke dalam target Bank Indonesia, namun risiko ke depan masih condong ke atas akibat konflik Timur Tengah dan kenaikan biaya pengiriman. Dalam pandangan mereka, Bank Indonesia diprakirakan akan mempertahankan suku bunga di 4,75% setelah menghapus bias pelonggaran, seiring meningkatnya volatilitas rupiah yang kini bergerak di atas 17.000.
Di sisi kebijakan, Bank Indonesia memperkuat langkah stabilisasi rupiah. Menurut Reuters, Wakil Gubernur Senior Destry Damayanti menyatakan BI telah melakukan intervensi di pasar spot dan NDF, serta siap membeli obligasi di pasar sekunder dan mengoptimalkan SRBI guna menarik arus masuk, dengan fokus utama menjaga stabilitas di tengah tekanan global. Berdasarkan data LSEG, rupiah sempat melemah hingga 0,35% ke 17.090 per dolar AS pada Selasa pagi dan telah turun lebih dari 2% sepanjang 2026, meski kenaikan harga komoditas dinilai dapat membantu meredam sebagian dampak terhadap ekonomi.
Sementara itu, sisi fiskal masih memberikan bantalan, dengan defisit APBN yang menyusut menjadi 2,8% serta posisi saldo anggaran lebih yang mencapai Rp420 triliun. Namun, kombinasi dolar yang kuat, tekanan energi, dan sentimen global yang belum stabil menjaga rupiah dalam fase defensif, dengan ruang penguatan yang masih terbatas dan potensi pengujian area atas tetap terbuka.
Bank Sentral memiliki mandat utama yaitu memastikan adanya stabilitas harga di suatu negara atau kawasan. Perekonomian terus-menerus menghadapi inflasi atau deflasi ketika harga barang dan jasa tertentu berfluktuasi. Kenaikan harga yang terus-menerus untuk barang yang sama berarti inflasi, penurunan harga yang terus-menerus untuk barang yang sama berarti deflasi. Tugas bank sentral adalah menjaga permintaan tetap sesuai dengan mengubah suku bunga kebijakannya. Bagi bank sentral terbesar seperti Federal Reserve AS (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB) atau Bank of England (BoE), mandatnya adalah menjaga inflasi mendekati 2%.
Bank sentral memiliki satu alat penting yang dapat digunakan untuk menaikkan atau menurunkan inflasi, yaitu dengan mengubah suku bunga acuannya, yang umumnya dikenal sebagai suku bunga. Pada saat-saat yang telah dikomunikasikan sebelumnya, bank sentral akan mengeluarkan pernyataan dengan suku bunga acuannya dan memberikan alasan tambahan terkait mengapa bank ini mempertahankan atau mengubahnya (memotong atau menaikkan). Bank-bank lokal akan menyesuaikan suku bunga tabungan dan pinjaman mereka, yang pada gilirannya akan mempersulit atau mempermudah orang untuk mendapatkan penghasilan dari tabungan mereka atau bagi perusahaan-perusahaan untuk mengambil pinjaman dan melakukan investasi dalam bisnis mereka. Ketika bank sentral menaikkan suku bunga secara substansial, hal ini disebut pengetatan moneter. Ketika memotong suku bunga acuannya, maka disebut pelonggaran moneter.
Bank sentral sering kali independen secara politik. Anggota dewan kebijakan bank sentral melewati serangkaian panel dan sidang sebelum diangkat ke kursi dewan kebijakan. Setiap anggota di dewan tersebut sering kali memiliki keyakinan tertentu tentang bagaimana bank sentral harus mengendalikan inflasi dan kebijakan moneter berikutnya. Anggota yang menginginkan kebijakan moneter yang sangat longgar, dengan suku bunga rendah dan pinjaman murah, untuk meningkatkan ekonomi secara substansial semantara merasa puas melihat inflasi sedikit di atas 2%, disebut 'dove'. Anggota yang lebih suka melihat suku bunga yang lebih tinggi untuk menghargai tabungan dan ingin menjaga inflasi tetap rendah setiap saat disebut 'hawk' dan tidak akan beristirahat sampai inflasi mencapai atau sedikit di bawah 2%.
Biasanya, ada ketua atau presiden yang memimpin setiap rapat, perlu menciptakan konsensus antara pihak yang mendukung atau menentang kebijakan moneter dan memiliki keputusan akhir ketika keputusan harus diambil berdasarkan suara yang terbagi untuk menghindari hasil seri 50-50 mengenai apakah kebijakan saat ini harus disesuaikan. Ketua akan menyampaikan pidato yang sering kali dapat diikuti secara langsung, di mana sikap dan prospek moneter saat ini dikomunikasikan. Bank sentral akan mencoba untuk mendorong kebijakan moneternya tanpa memicu perubahan tajam pada suku bunga, ekuitas, atau mata uangnya. Semua anggota bank sentral akan mengarahkan sikap mereka ke pasar sebelum acara rapat kebijakan. Beberapa hari sebelum rapat kebijakan berlangsung hingga kebijakan baru dikomunikasikan, anggota dilarang berbicara di depan umum. Hal ini disebut periode blackout.