এখন থেকে আমরা Elev8
আমরা শুধুমাত্র একটি ব্রোকার নই। আমরা একটি সর্বাত্মক ট্রেডিং ইকোসিস্টেম—বিশ্লেষণ, ট্রেড, এবং প্রবৃদ্ধির জন্য আপনার যা কিছু প্রয়োজন তা এক জায়গায়। আপনার ট্রেডিং উন্নত করতে প্রস্তুত?
আমরা শুধুমাত্র একটি ব্রোকার নই। আমরা একটি সর্বাত্মক ট্রেডিং ইকোসিস্টেম—বিশ্লেষণ, ট্রেড, এবং প্রবৃদ্ধির জন্য আপনার যা কিছু প্রয়োজন তা এক জায়গায়। আপনার ট্রেডিং উন্নত করতে প্রস্তুত?
Rupiah bergerak relatif stabil dengan kecenderungan melemah tipis pada perdagangan Rabu, tercermin dari USD/IDR yang berada di level 16.925 pada saat berita ini ditulis, turun sekitar 0,05% secara harian. Sepanjang sesi, pasangan mata uang ini bergerak dalam rentang 16.913 hingga 16.980 setelah dibuka di sekitar 16.933, mencerminkan tekanan yang masih terjaga namun belum berkembang menjadi pelemahan yang lebih dalam. Pergerakan ini sejalan dengan Indeks Dolar AS (DXY) yang diperdagangkan datar di sekitar 99,50 setelah mengalami koreksi tajam dalam dua hari sebelumnya.
Permintaan terhadap aset safe-haven mulai mereda, mendorong tekanan lanjutan pada Dolar AS di tengah membaiknya selera risiko global. Sentimen ini terbentuk setelah Iran mengizinkan kapal tanker dari sejumlah negara untuk kembali mengirimkan energi melalui Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak dunia.
Meski demikian, ketidakpastian energi belum sepenuhnya hilang. Indonesia membuka opsi impor minyak dari Rusia untuk menjaga ketahanan pasokan di tengah lonjakan harga global, di saat impor dari Arab Saudi turun tajam dan sejumlah kargo Pertamina masih tertahan. Pemerintah juga mulai menimbang penyesuaian anggaran jika tekanan harga energi berlanjut.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di 4,75% dalam RDG Maret 2026, dengan suku bunga Deposit Facility 3,75% dan Lending Facility 5,50%, sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas Rupiah.
BI juga mengindikasikan pengetatan aturan transaksi valuta asing mulai April 2026, termasuk menurunkan ambang kewajiban dokumen transfer valas ke luar negeri dari USD100 ribu menjadi USD50 ribu. Langkah ini melengkapi bauran kebijakan yang mencakup intervensi pasar, ekspansi likuiditas, serta pembelian SBN yang telah mencapai Rp86,16 triliun hingga pertengahan Maret.
Di sisi eksternal, perhatian pasar kini tertuju pada keputusan The Fed yang diprakirakan kembali menahan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%, menandai jeda kebijakan untuk kedua kalinya. Dengan ruang kebijakan yang relatif tetap, pelaku pasar mengalihkan fokus ke dot plot dan pernyataan Ketua Jerome Powell guna menangkap arah kebijakan selanjutnya.
CME FedWatch menunjukkan suku bunga berpotensi bertahan hingga Juli, dengan peluang penurunan mulai terbuka pada September mendekati 53%. Namun, tekanan inflasi global yang kembali meningkat seiring lonjakan harga energi berpotensi menahan ruang penguatan lebih lanjut bagi Rupiah dalam jangka pendek.
Federal Reserve (The Fed) berunding tentang kebijakan moneter dan membuat keputusan tentang suku bunga pada delapan pertemuan yang dijadwalkan sebelumnya per tahun. The Fed memiliki dua mandat: untuk menjaga inflasi pada 2%, dan untuk mempertahankan lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai hal ini adalah dengan menetapkan suku bunga – baik di mana The Fed meminjamkan ke perbankan dan perbankan saling meminjamkan. Jika The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga, Dolar AS (USD) cenderung menguat karena menarik lebih banyak arus masuk modal asing. Jika The Fed memangkas suku bunga, hal ini cenderung melemahkan USD karena modal mengalir keluar ke negara-negara yang menawarkan pengembalian yang lebih tinggi. Jika suku bunga dibiarkan tidak berubah, perhatian beralih ke nada pernyataan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC), dan apakah FOMC hawkish (mengharapkan suku bunga masa depan yang lebih tinggi), atau dovish (mengharapkan suku bunga masa depan yang lebih rendah).
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Mar 18, 2026 18.00
Frekuensi: Tidak teratur
Konsensus: 3.75%
Sebelumnya: 3.75%
Sumber: Federal Reserve